Dibuat pada tgl. 26 Agustus 1989 • Direvisi 6 Oktober 1997 • Dimuat sebagai home page 27 November 1997



Sejarah Proyek CellFone Nusantara
&
Pengembangan Konsep Pola Bagi Hasil

Pada hakekatnya pendiri CellFone Nusantara sejak tahun 1986 memandang Perumtel (kini P.T. Telkom Indonesia) sebagai monopoli sebagai sebuah organisasi yang dijalankan oleh tidak lebih dari 40.000 manusia dan mendikte kepada 205 juta manusia tarif dan biaya lain yang harus dibayar oleh 205 juta manusia tersebut. Hak untuk memilih, baik itu sarana telekomunikasi atau listrik, adalah sama dengan hak untuk memilih

Pada Tahun 1987,
Perusahaan memperkenalkan kepada Pemerintah R.I. konsep “partisipasi swasta” pada pembangunan dan investasi sarana “infrastruktur” telekomunikasi di dalam lingkungan yang di monopoli oleh PERUMTEL, perusahaan umum telekomunikasi milik Pemerintah yang berobah menjadi P.T. Telkom Indonesia.

Pada Bulan January 1988,
Dua pengusaha dan sebuah Yayasan mendirikan P.T. CellFone Nusantara pada tanggal 27 Januari, 1988, dengan maksud untuk

  •  mengadakan sarana telekomunikasi yang dapat dijangkau masyarakat biasa,
  • keyakinan bahwa swasta mampu investasi puluhan milyar dollar, dan
  • membangun infrastruktur yang biasanya ditangani Pemerintah.

  • Pada Bulan Januari 1988 Kemudian,

    Kami memberi masukan, bahan cetakan dan bahan lain dari berbagai penjuru dunia kepada Komisi V di DPR/MPR, yang berwenang memodifikasi undang-undang negara untuk telekomunikasi yang terakhir dirobah pada tahun 1964. Kami menghimbau anggota Komisi V untuk memodifikasi undang-undang telekomunikasi tahun 1964 agar swasta dapat berperan.

    Pada saat bersamaan PT CellFone di undang oleh Pemerintah Polandia, dan pemerintahan negara asing lainnya yang masih mempraktekan monopoli telekomunikasi untuk menyelenggarakan presentasi pola bagi hasil di negara-negaranya. Wakil-wakil pemerintahan Amerika, Belanda, Jerman, Singapore, Thailand dan Jepang menyatakan bilamana Pemerintah Indonesia dapat menerima konsep ini, akan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia.

    Pada Tgl. 27 April & 20 Juni 1988,

    PT CellFone Nusantara yang baru dibentuk secara resmi menawarkan kepada Pemerintah:

    1. pembangunan jaringan infrastruktur telepon nasional,

    2. menggunakan sumber pendanaan swasta CellFone membebaskan Pemerintah dari sumber pendanaannya,

    3. membuka peluang kepada swasta menjalankan usaha telekomunikasi swasta kerjasama dengan Pertumtel (Telkom),

    4. merobah persepsi sarana telepon sebagai jasa luks/mahal menjadi sarana setiap orang dapat memperolehnya seperti di Amerika Serikat, Singapore dan Hong Kong.

    Pada Tgl. 20 Juni, 1988,

    Kami menawarkan program pembangunan yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
    1. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi secara nasional dengan densitas 11.5% (11.5 telepon per 100 penduduk) dalam 20 tahun pada tahun 2009 (dibandingkan dengan densitas nasional 0.4% atau 800.000 saluran telepon pada tahun 1988).
    2. Pembangunan 29.300.000 satuan sambungan dengan biaya investasi sebesar US$ 62,000,000,000 ($62 milyar dollar Amerika) berdasarkan perhitungan Perumtel sebesar US$ 2.060 per satuan sambungan pada saat itu.

    3. Menciptakan pembangunan industri elektronika dan telekomunikasi mendukung program kami.

    4. Membuka lapangan kerja bagi 410.000 pegawai tetap berdasarkan rumus bahwa tiap 3.000 satuan sambungan memerlukan 42 orang untuk pengoperasian dan pemeliharaan. Sama dengan 1 orang diperlukan untuk tiap 71 satuan sambungan (dibandingkan dengan 1 orang untuk tiap 90 SST di Australia saat itu).

    Pada Tgl. 8 Agustus, 1988

    Kami di undang secara resmi oleh Sekretaris Jendral Departemen Parpostel dalam suratnya No. PB.103/2/3/.PTT untuk mengadakan penjelasan (presentasi) pada konsep “partisipasi swasta” di dalam monopoli Perumtel.

    Pada Tgl. Agustus 26, 1988

    Kami mengadakan presentasi resmi perihal konsep kami “Pola Bagi Hasil” atau P.B.H. di hadapan kurang-lebih 115 pejabat dari Parpostel. Hadir pada saat itu adalah Sekretaris Jendral, Irjen, para pejabat teras Parpostel lainnya, para direktur PERUMTEL, PT INTI, PT INDOSAT, BAPPENAS, dan para pejabat lain. Presentasi berlangsung selama 55 menit dan tanya-jawab berlangsung selama 3.5 jam keseluruhannya menjadi 4.5 jam.

    Pada tanggal 31 Agustus, 1988

    Pemerintah secara resmi mengadopsi “pola bagi hasil” yang diperkenalkan oleh perusahaan kami pada saat Menparpostel, Bapak Soesilo Soedarman, mengeluarkan surat No. 49/MPPT/VIII/88, tanggal 31 Agustus, 1988, menunjuk 5 perusahaan termasuk PT CellFone Nusantara sebagai “investor” pada proyek “percobaan” 200.000 saluran menggunakan “konsep pola bagi hasil”.

    Pada tanggal 4 Oktober, 1988,

    PERUMTEL membuat studi kelayakan No. KV 032/KVG 13/4 Oktober 1988, untuk 200.000 saluran didasarkan surat Menteri Parpostel No. 49/MPPT/VIII/88. Copy dari Studi Kelayakan tersebut diberikan kepada CellFone Nusantara, dan telah menjadi “Studi Kelayakan” dan dasar proyek CellFone Nusantara. Beberapa rekomendasi didalam studi kelayakan tersebut mencantumkan saran-saran yang diajukan didalam presentasi tertanggal 26 Agustus 1988 dalam “tanya-jawab”. Diantaranya adalah pembagian keuntungan sebesar 70-30%, 70% untuk investor.

    Pada tanggal 21 Nopember, 1988

    Menko EKUIN, Dr. Radius Prawiro, didalam suratnya memberi persetujuan uji coba untuk pembangunan 100.000 saluran.

    Pada Bulan Januari 1989

    Presiden-direktur PT CellFone Nusantara menerima Rancangan Undang-Undang (RUU) dan memberi pandangannya kepada anggota Komisi V di DPR/MPR.

    Pada Pertengahan Februari 1989

    Dewan Direksi PT CellFone Nusantara dan Dewan Komisaris yang diwakilkan oleh Yayasan bertemu dengan Menparpostel selama 2 jam 9 menit, dan telah disepakati oleh Menparpostel bahwa CellFone Nusantara membangun “sebanyak mungkin” diluar 100.000 saluran telpon yang disetujui oleh Menko Ekuin, karena pembangunan sebanyak 20.000 saluran (bagian CellFone) tidak layak, terkecuali bila merupakan bagian dari proyek lebih besar. Angka 20.000 adalah 100.000 saluran dibagi 5 perusahaan yang pertama ditunjuk pemerintah (lihat kutipan berita pers terlampir).

    Pada tanggal 1 April 1989

    “Undang-undang Republic Indonesia No. 3/1989” tertanggal 1 April 1989, diadakan merobah Undang-undang No. 5/1964 & 6/1964 karena “dianggap tidak sesuai dengan progress teknologi dan tidak memenuhi kebutuhan rakyat ...”

    Bagian Penting Dari Undang-Undang No. 3/1989 Menyatakan:

    “... dengan maksud meningkatkan organisasi telekomunikasi, dianggap perlu untuk terus-menerus mengusahakan usaha yang efektip dan partisipasi umum untuk menjamin adanya sarana telekomunikasi secara maksimal untuk kepentingan umum ...”

    Pada Pertengahan Mei 1989

    Presiden-direktur PERUMTEL, Ir. Cacuk Soedarijanto dan direktur logistiknya, Kolonel Nasution (saat itu), mengunjungi Presiden komisaris CellFone Nusantara, Bapak Nichlany Soedardjo, Maj. Jen (Purn) untuk memberi konfirmasi persetujuan Menparpostel bahwa “CellFone membangun sebanyak mungkin saluran telepon” diluar pembangunan 100.000 saluran yang telah disetujui Menko Ekuin pada suratnya tertanggal 21 Nopember 1988.

    Perkembangan Setelah 1994

    Sejak tahun 1994, Pemerintah mengadopsi Kerja Sama Operasi atau KSO. Pada program KSO tersebut prinsip pola bagi hasil tetap mengambil peranan karena P.T. Telkom sebagai pemegang sarana telekomunikasi tunggal/monopoli masih mensyaratkan pembagian keuntungan dengan kontraktor KSO dan penyerahan aset yang dibangun investor kepada Telkom.

    Konsep KSO telah di bayangkan oleh Dirjen Parpostel, (saat itu) Bapak Ir. Soekarno Abdulrachman, pada tahun 1988 dan PT CellFone Nusantara karena monopoli PERUMTEL/PT Telkom tidak akan mampu melayani expansi secara nasional karena tidak adanya personalia dan dananya sehingga kontraktor KSO diwajibkan mengoperasikan sistim-sistim yang mereka bangun dengan diawasi oleh PERUMTEL/ Telkom.

    Catatan: konsep Pola Bagi Hasil atau KSO tidak berlaku lagi bilamana monopoli PT Telkom telah dihapus dan penyelenggara komunikasi swasta dapat beroperasi tanpa harus membagikan penghasilannya dengan PT Telkom atau menyerahkan asetnya kepada P.T. Telkom.

    Pendapatan Pemerintah Bila Ada Saingan Bebas?

    Bagian dari penghasilan penyelenggara sarana telkom bila monopoli Telkom telah dihapus/ dimodifikasi di bayarkan melalui pajak perusahaan dan pajak pendapatan. Tujuan CellFone Nusantara adalah saingan bebas, pemasangan SST dimana saja diseluruh nusantara, dan saingan bebas pada tarif pulsa yang plafon maksimumnya ditentukan oleh Pemerintah, yang kebijakan ini akan memberi manfaat bagi puluhan juta orang. Manfaat ini akan menyumbang pada diri masing-masing orang rakyat kita, dan kemudian akan menyumbang pada perkembangan semua usaha.

    Kesepakatan AFTA & APEC

    Sesuai kesepakatan AFTA (ASEAN Free Trade Area) setelah tahun 2003, dan perjanjian APEC yang ditanda tangani Indonesia, monopoli PT Telkom seharusnya ditiadakan setelah tahun 2005.

    April 1994 - Rencana Pembangunan Menjadi 70 Juta Saluran

    PT CellFone mengutus kelompok dari Inggeris, Amerika Serikat dan Kanada membuat survei dan studi kelayakan secara nasional dengan biaya $400,000 (±Rp 1.000.000.000) dan menetapkan bahwa densitas nasional yang layak seharusnya dirobah menjadi 27% atau 70 juta SST. Rekomendasi daerah-daerah yang perlu dipasang jaringan telepon serta densitas lokal dicantumkan didasarkan pemasang jaringan telekom yang ada.

    Perkembangan Pada Bulan Juni 1997 - Pernyataan Presiden R.I.

    Pada pertemuan D-8 di Istambul, Turki, bulan Juni 1997, Presiden menyatakan “... mau atau tidak, siap atau belum, kita harus menghadapi saingan (internasional) ...”. Pada saat yang akan datang, Indonesia akan dilanda saingan didalam negeri oleh dunia telekomunikasi internasional yang akan memasuki Indonesia secara bebas, menggunakan teknologi canggihnya. Karena kesepakatan Indonesia untuk memasuki era saingan bebas, pihak asing akan juga menetapkan tarif yang lebih competitif.

    Bank Dunia: Pasar Telekom 1997 Sebesar US$ 460 Milyar

    Bank Dunia menyatakan didalam berita persnya bulan Juni 1997 dikutip “The Jakarta Post” “... perkembangan dunia telekomunikasi di daerah Asia menjadi pesat berkat adanya pola bagi hasil (revenue sharing) ...”, jauh diatas investasi dibidang manapun.

    Krisis Ekonomi 1997-1998

    Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia tidak mengurangi minat investasi dan usaha telekomunikasi kami di Indonesia, memandang krisis ekonomi ini sebagai krisis sementara. Para investor dan mitra usaha kami yakin bahwa fundamental di Indonesia masih ada dan utuh, dan keyakinan ini memungkinkan Perusahaan CellFone untuk tetap merundingkan negosiasi dengan para investor dan para mitra usaha baru untuk jumlah keseluruhan sebesar US$ 300 milyar (sekitar Rp 1.500 trilyun dengan kurs U$1.00/Rp 5000).

    WEB SITE PROMOTIONAL AFFILIATES
    BUY DIRECTPAY DIRECTSHIPPED DIRECT BY THE SUPPLIER •
    Created withNetScape Composer 4.x–4.7
    Netscape
    Try AOL NOW!  Get 250 Hours FREE!
    Join AOL Now! Get 250 Hours FREE!
    you@email.com Generic you@email.com
    Online Translation, Now!
    In Association with Amazon.com
    Short URLs
    Easy Submit
    Credit analysis
    Freeware
     
    ZDNet Updates - The Easiest way to keep your PC up-to-date
    Call Jakarta
    Travelocity.com
    Baby Home Page
     
    .22¢ to Taiwan
    .48¢ to India
    .35¢ to China
    Lowestmagazine prices on the Web
    Free Useful Software
    and sites
  • 2000 Horoscopes
  • Free US InternetSerProviders Choose Your Newspaper.
  • Netscape 4.x How-to Tips
  • US Residents: Compare 4000 Cellfone Services & 200 Phone Products & Accesories
  • Converter: mph-kmh, lbs-kgs, ft-m, vol.torque, temp. etc.
  • Remove Startup Programs
  • Your Photos 3-D ScreenSaver
  • Modifiable Clipboard
  • Electronic Assistant PIM
  • FreeDay/Date/Mo/Yr Taskbar Clock
  • Official Consumers Electronics Association Site
  • Submit Your Tender/Offer
  • 2000 Horoscopes
  • Free US InternetSerProviders Choose Your Newspaper.
  • Netscape 4.x How-to Tips
  • US Residents: Compare 4000 Cellfone Services & 200 Phone Products & Accesories
  • Converter: mph-kmh, lbs-kgs, ft-m, vol.torque, temp. etc.
  • Remove Startup Programs
  • Your Photos 3-D ScreenSaver
  • Modifiable Clipboard
  • Electronic Assistant PIM
  • FreeDay/Date/Mo/Yr Taskbar Clock
  • Official Consumers Electronics Association Site
  • Submit Your Tender/Offer
  • .17¢-.19¢ to Jakarta NextCard Internet Visa
    Earth Is Our Home-Let's Take Care of It
    Ecology Library| Waste Watch|Why Files| Discovery Channel|Gen. Modified Foods
    3.9¢ US to US calls
    International calls save 70%
    .35¢ US to Philippines
    This is software space This is software space


    HEALTH NEWS

    Search MotherNature.com Search MotherNature.com
    Search MotherNature.com
    Shop By AilmentShop By Gender/Age • Naturopathic Medicines • Weight Loss • Supplements • Specialty Formulas • Minerals • Homeopathic • Teas• Herbs • Vitamins • Diet & Sports Nutrition • Pet Products • Coffee Products • Aroma Therapy Products • Bath & Body Products • Books From Mother Nature • Back & Neckcare • Osteopathy • Prenatal Supplements
    Note: Because of continual product changes you may not find the same named
    products above, but by entering their homepage and clicking their
    "Ask Our Personal Shopper" it will help you find exactly what you're looking for.


    LATEST NEWS

    JakartaPost
    Jakarta's Leading English Daily
     Financial Times | All Worlds Online Papers
     BBC| The Mirror
    LOGO KompasCyberMedia
    Indonesia’s largest circulation daily versi Indonesia | English | Dutch
    - Pos Kupang
    (WestTimor Daily)
    - Sriwijaya Post
    (East Java daily)
    - Banjarmasin Post


    FREE E-MAILER MAIL — CHOOSE YOUR LANGUAGE
    yourname@e-mailer.zzn.com

     Sign Up with e-mailer Mail
    ZZN Account
    Use Your Own Name without numbers - Lots of names still available - yourname@e-mailer.zzn.com - 12 languages, 4 more coming up
     First Name:  Last Name:  

    Since November 1st. 1997

    Contents 26 August 1989 • web page Uploaded 1 November, 1997 • Updated 27 December, 1999